Enam Atlet Paralimpik Jabar Sepakat Berdamai dengan NPCI

Enam Atlet Paralimpik Jabar Sepakat Berdamai dengan NPCI

Atlet Paralimpik Menginap di Kantor DPRD Kota Cimahi
Atlet Paralimpik Akan Laporkan Pemotongan Bonus ke Polda Jabar
Balikin Medali Emas ke Presiden, Atlet Paralimpik Jalan Kaki ke Jakarta

Jabarzone.com, Bandung –  Setelah berpolemik sekitar 6 bulan,  enam atlet paralimpik Jabar akhirnya menempuh jalur perdamaian dengan tergugat  National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, NPC Jabar, NPC Kota Bandung, NPC Kota Tasikmalaya, dan NPC Kabupaten Bekasi. Perdamaian  ini dilakukan di luar pengadilan, di sebuah restoran di Kawasan Braga, Bandung, Jumat, 7 September 2018.

“Dengan perdamaian ini, para atlet  diberikan opsi pengganti untuk berprestasi di dunia olahraga yakni, ,melalui tiga event, yakni Pekan Olahraga Daerah Jabar tahun 1918, Kejuaraan Nasional Indonesia, 2019 dan Asean Paragames di Filipina 2019,” kata Kamaludin, Kuasa Hukum enam atlet paralimpik.

Kamaludin menyatakan, selain opsi tadi, dalam nota kesepakatan perdamaian juga disepakati bahwa   para  atlet akan mendapatkan haknya kembali sebagai atlet yang dapat mengembangkan karir mereka melalui organisasi induknya NPCI, menjadi anggota NPCI sebagai wadah tunggal atlet para di Indonesia, NPCI juga akan mengembalikan kehormatan dan membina atlet para di Jabar, bantuan pekerjaan dan beasiswa, pendirian sekolah atlet para di Jabar.

Kasus ini berawal  karena karena NPCI meminta para atlet berprestasi ini menyetorkan 20 persen dari  bonus yang mereka terima di PON Paralimpik 2016. Bonus yang mereka terima antara Rp 275 sampai Rp 500-am juta per atlet.  Para atlet  menolaknya, tapi akibatnya NPCI  mencoret  nama mereka dalam perhelatan  Asian Para Games 2018.

Selanjutnya, para atlet melalui Wali atlet,  Andri Perkasa Kantaprawira dari Gerakan Pilihan Sunda membawa kasus ini ke  di Pengadilan Negeri Kelas 1A Khusus Bandung,  melalui kuasa hukum Kamaludin, pada  17 April 2017 lalu.

Hingga para atlet melakukan long march Bandung – Jakarta untuk mengembalikan emas ke Presiden. Namun pada hari ketiga long march saat mereka baru tiba di Purwakarta, pihak Kemenpora menawarkan solusi mediasi dengan para tergugat.

Menurut Andri,  dengan perdamaian ini, maka  kehormatan dan hak-hak harus atlet dikembalikan. Juga tidak lagi didiskriminasi dan pelanggaran atas hak-hak perdata para atlet paralimpik yang melanggar UU No. 8 Tahun 2016 Tentang Disabilitas.

“Kami berharap kasus pemotongan bonus para atlet yang  mematikan karir atlet paralimpik tidak terulang. Tidak boleh ada pungutan liar dalam bentuk apapun terhadap para atlet,” kata Andri.

Ke-enam atlet yang menggugat itu adalah Farid Surdin, atlet tolak peluru, Ganjar Jatnika (atlet atletik-),  Asri (atletik) dan Junaedi, atlet yudo. Mereka meraih medali emas. Sedangkan dua atlet lainnya yakni, Elda Fahmi, atlet yudo meraih medali Perak, dan Sony Satrio Dwilaksono, atlet yudo peraih medali perunggu. Mereka berharap dengan perdamaian NPCI tidak lagi meminta setoran kepada para atletnya.

“Segala bentuk setoran ke NPCI sebaiknya tidak ada lagi,” ucap Ganjar, salah seorang atlet.

Atlet lainnya, Farid menyatakan hal yang sama. “Kami ingin seluruh atlet para di Indonesia tidak dipaksa setoran lagi ke NPCI agar kami fokus untuk berlatih dan berprestasi,” ujarnya.

Perdamaian ini difasilitasi oleh Kemenpora yang diwalili oleh Emir Hadi dari Biro Hukum.  Emir menyatakan dengan perdamaian ini, NPCI bisa berkomitmen menfasilitasi para atlet sedangkan  atlet para juga bisa berjuang kembali mengharumkan nama Indonesia melalui olahraga.

Hadir dalam pertemuan itu adalah Ketua Bidang Hukum NPCI Pusat MT Heru Buwono dan Supriyatna Gumilar, sekretaris NPCI Jabar. “Perdamaian ini membuat langkah kami fokus pada penguatan prestasi bagi atlet para,” kata Supriyatna. (Saeni)

 

COMMENTS