Jokowi kalah di Medsos, akankah kalah di PilPres

Jokowi kalah di Medsos, akankah kalah di PilPres

Kasus Herman Hery Belum Tuntas, Jubir Prabowo-Sandi Tagih Janji Jokowi Berantas Premanisme
Koalisi SBY-Prabowo Bikin Jokowi Makin Berat
Jika Pilpres Digelar Saat Ini Jokowi Menang Telak, Ini Komentar Direktur Relawan Tim Kampanye Jokowi

Jabarzone.com – Analisis kekalahan Jokowi di medsos untuk tahun ini lebih mencerminkan kondisi real dibandingkan 2014, karena 2014 Jasmev masih menguasai jagad dunia per-sosmed-an sehingga setiap ada cerita miring tentang Jokowi langsung diserang balik.

2019, jasa Jasmev masih tetap ada namun prosentase pengguna sosmed makin besar sekitar 130juta penduduk. Bedanya saja, Jokowi 2014 masih laku dengan figur yang merakyat, polos dan bersih. Karena faktor media yang mendorong iklan pariwara sebuah pencitraan tanpa henti.

Namun 2019 berbeda jauh, Jokowi sudah menjabat dan sisi positif negatifnya sudah dirasakan. Tinggal bagaimana masing-masing pemilih merasakan perbedaannya. Media boleh booming menggoreng keberhasilan infrastrukturnya Jokowi, namun fakta ekonomi yang dirasakan langsung oleh rakyat berkata lain. Fakta semua harga mengalami kenaikan, pertumbuhan ekonomi tidak pernah menyentuh target 7%, dan isu-isu tenaga kerja serta isu politik yang memanas jelas berbeda dibandingkan di masa SBY apalagi Soeharto.

Di sisi Prabowo lebih diuntungkan tanpa kampanye berlebihan pun akan ada sisi positif karena “faktor kapok” memilih Jokowi yang terbukti tidak berhasil dengan baik menyelesaikan periode pertamanya.

Media mainstream bisa saja tidak memberitakan hal-hal yang bisa mendongkrak elektabilitas Prabowo namun pendukung Prabowo begitu massive dan kompak tetap memberitakan. Setiap orang adalah wartawan, begitu era sekarang sehingga tanpa media mainstream pun semua berita bisa dengan gampang diakses bahkan lebih update ketimbang TV mainstream.

Bukti paling anyar, Reuni 212 hampir tidak dibahas oleh sebagian besar media mainstream namun yang hadir justru melebihi peserta aksi 212. Artinya, fungsi gadget lebih berhasil dibanding Televisi dalam menyampaikan sebuah kabar.

Kemarin Prabowo mencak-mencak saat diwawancarai media Televisi karena tidak menyiarkan Reuni 212, menciptakan kesan Prabowo didzolimi media. Ini menjadi nilai tambah yang bisa menarik swing votter yang saat ini masih berkisar 16,8%.

Angka yang ditampilkan lembaga Survey Median bisa jadi benar, namun angka 35,5% Prabowo akan berbalik menjadi 52,3% jauh meninggalkan angka Pasangan petahana yang mampet di angka 47,7%.

Karena angka elektabilitas Jokowi tetap bertahan di pelosok-pelosok desa yang tak terjangkau oleh tim pemenangan Prabowo-Sandi namun dicecoki berita tentang keberhasilan Jokowi.

Angka Elektabilitas dari lembaga Survey membuat tim petahan lebih santai, hampir tidak ada gebrakan dari tim petahana. Malah blunder-blunder yang dilakukan Cawapres Kyai Ma’ruf mengurangi simpati dari pemilih kalangan umat muslim.

Sementara itu, Perhatikan grup-grup medsos pendukung Prabowo, kebanyakan tertutup, tapi sangat aktif, tim militan Prabowo menjadikan hape mereka adalah jihad mereka. Setiap video, postingan seleb medsos mereka, diblasting ke mana-mana.

Merebut suara fanatik Prabowo, hitungannya hampir mustahil. Mereka telah membentuk sekat dan menjauh dari dunia ramai. Sementara Prabowo masih mungkin merebut suara fanatik Jokowi, karena sifatnya yang terbuka. Minimal membuat mereka ragu dan tak memilih.

Kita sama tahu, survey pemilih Jokowi cenderung stagnan, atau turun tipis. Peluang merebut swing voter semakin keras, karena pihak Prabowo pintar memilih kualitas tim pemenangan yang lebih berbobot dan pintar. Lihata dari beberapa kali acara ILC TVOne, satu-satunya Stasiun Televisi yang masih bisa dibilang netral bukan sebagai corong pemerintah. Bintang tamu yang dihadirkan tim Prabowo jauh lebih berkelas dan menguasai materi, bandingkan dengan tim Jokowi yang ala kadarnya.

Sama seperti Prabowo, Jokowi juga punya pasukan medsos. Cuma bedanya, tim medsos Prabowo adalah kelompok militan yang berjihad tanpa ada kucuran dana. Mereka berjuang dengan tekad memperbaiki kondisi republik ini, punya massa dan tergolong lebih cerdas. Lihat kelompok Jokowi, memainkan isu-isu yang jauh dari intelektualitas. Mereka memainkan isu-isu murahan mengenai leucon Sandiaga maupun Prabowo, tidak menyentuh ke hal prinsip.  Sementara tim Prabowo, lebih memilih mengkritik tingkah polah Jokowi yang dirasa tidak dalam kapasitasnya sebagai seorang Presiden serta kebijakan-kebijakan yang tidak pro pada rakyat.

Membandingkan gerakan tim Prabowo terutama di medsos, tim TKN Jokowi-Amin menurut saya, lebih mirip sekelompok badut. Banyak gaya sedikit hasilnya. Erick Thohir?? Republika yang ada di bawah kendalinya saja terus terusan menyerang Jokowi. TKN terlihat bingung sendiri.

Hari ini Jokowi kalah di medsos, progres peningkatan di kubu Jokowi masih stagnan, bahkan mungkin makin minus. Sementara tim Prabowo makin menggerus elektabilitas Jokowi. Faktor Sandi makin membuat kalangan pemilih perempuan beralih ke kubu Prabowo dibandingkan Faktor Kyai Ma’ruf dan faktor pemilih ummat Islam pun sudah sangat solid ke Prabowo, sangat sulit menarik mereka meskipun Jokowi menggandeng tokoh Muslim sekelas Kyai Ma’ruf.

Semoga, 2019 PilPres berlangsung teduh dan damai..Karena siapapun pemenangnya, tujuannya adalah menyejahterakan rakyat.

-saya sudah berusaha objektif, jika terkesan memihak ya jangan baperan-

Oleh : Agus Santoso ST, MM

Tulisan ini seperti yang ditulis Agus Santoso pada akun facebook Agus Santo

COMMENTS