Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat Akan Kawal Kebijakan BPOM

Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat Akan Kawal Kebijakan BPOM

HSN III Dihadiri Cawapres Ma’ruf Amin, Ribuan Santri Banjiri Dadaha Kota Tasik
Teguh Santosa Ditetapkan sebagai Wakil Presiden CAJ
Pendiri SMSI sebut Auri Jaya Lebih Cokok Jadi Ketum

Jabarzone, Jakarta – Sejumlah LSM dan aktivis kesehatan masyarakat mendeklarasikan berdirinya Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (KOPMAS) di Jakarta, 28 Oktober 2018.

Koalisi ini dibentuk untuk merespon keprihatinan masyarakat terhadap persoalan kesehatan yang timbul akibat kurangnya edukasi masyarakat akan makanan bergizi, gaya hidup dan pengaruh iklan dan promosi produk yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Aktivis yang bergabung  dalam koalisi tersebut antara lain adalah Yuli Supriati dari Perempuan Inspiratif Nova, Arif Hidayat (Yayasan Abhipraya Insan Cendekia), Aan (Relawan JKN Bekasi), Sofie (Dewan Kesehatan Rakyat), Srikandi REPDEM, Perempuan Peduli Kesehatan Jakarta Pusat, serta para penggerak Posyandu di Jabodetabek

Ketua umum KOPMAS Arif Hidayat menuturkanKOPMAS dirikan untuk melindungi hak kesehatan masyarakat dari pembohongan baik secara lisan maupun tulisan, serta mengusahakan terwujudnya kesehatan masyarakat Indonesia.

Ia berpendapat perlindungan terhadap kesehatan anak perlu mendapat pengawasan ketat dari pemerintah dan unsur masyarakat. “Mengawal kebijakan pemerintah dan mengawasi penerapannya  menjadi tugas KOPMAS kedepan. Kami akan menjadi mitra pemerintah dalan mewujudkan Generasi Emas 2045,” jelas Arif Hidayat.

Arif menjelaskan, persoalan susu kental manis (SKM) merupakan salah satu isu utama yang akan dikawal oleh KOPMAS.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) telah memperkuat Surat Edaran tentang Label dan Iklan pada produk Susu Kental dan Analognya, menjadi Perka No 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.

Surat Edaran BPOM tentang label dan iklan susu kental manis melarang  produsen melakukan empat hal. Pertama menampilkan anak berusia di bawah lima tahun dalam label dan iklan produk susu kental manis dan sejenisnya. Kedua,  menggunakan visualisasi bahwa produk Susu Kental dan analognya  disetarakan dengan produk susu.Ketiga, menggunakan visualisasi gambar susu cair atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman Keempat,menayangan iklan susu kental manis pada jam tayang acara anak-anak.

“Kami berharap para produsen bergerak cepat  menyesuaikan dengan kebijakan BPOM . Dengan demikian, upaya mengedukasi masyarakat tentang gula, garam lemak mendapatkan hasil yang lebih optimal,” kata  Arif Hidayat. (*)

 

 

COMMENTS