Komunitas Plastik untuk Kebaikan Dorong Pemerintah Lakukan Tata Kelola Sampah

Komunitas Plastik untuk Kebaikan Dorong Pemerintah Lakukan Tata Kelola Sampah

RSUD Dr. Soekardjo menerima kunjungan Tim Survey Akreditasi Versi 2012
Bukan Diminum, Begini Cara Terbaik Konsumsi Cuka Apel
Enam Pabrik Danone-AQUA Raih  Penghargaan PROPER Hijau

Jabarzone, Jakarta – Komunitas Plastik untuk Kebaikan mendorong pemerintah melakukan tata kelola sampah (Waste management) dengan benar. Selama ini, yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengelola sampahnya sangat konvensional, kumpulkan di TPS lalu buang ke TPA (Tempah Pembuangan Akhir) Sampah.

Ketua komunitas Plastik untuk Kebaikan Eni Saeni menyatakan hal itu saat melakukan kampanye pilah sampah plastic dan donasi sampah plastic di Car Free Day, Jalan Thamrin, Jakarta. Menurut dia, Indonesia tidak temasuk negara dengan konsumsi plastik Tertinggi, Amerika Serikat, Jepang dan bahkan Malaysia masih diatas Indonesia, namun pengelolaan sampah negara-negara tersebut relatif lebih baik.

Komunitas Plastik untuk kebaikan diinisiasi  oleh para pecinta lingkungan. Mereka menjadikan momentum Hari Pahlawan, 10 November sebagai deklarasi komunitas sekaligus kampanye pilah sampah plastic karena bisa didaur ulang. Sebanyak 50-an anggota komunitas, pagi itu di CFD berkeliling di seputaran Jl. Thamrin, mengajak masyarakat untuk menukarkan dua sampah botol ke kantong belanja go green. Sampah plastik yang terkumpul disumbangkan kepada pemulung, Ibu Tini.

Di Indonesia,   perkembangan industri,  produksi, perdagangan komoditas, dan konsumsi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan populasi. Data Kementerian Perindustrian 2019, dalam lima tahun konsumsi plastik naik dari 17-23 jadi 25-49 kilogram perkapita per tahun. Impor bahan baku plastik juga akan mencapai 5,6 juta ton per tahun.

“Ketika plastic itu sudah menjadi sampah, yang seharusnya dikendalikan adalah sampahnya, bukan plastik yang menjadi wadahnya. Zero waste tidak mungkin terjadi jika infrastrukturnya tidak siap,” kata Eni.

Sampah plastik telah menjadi masalah global. Indonesia mejadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Data Sustainable Waste Indonesia (SWI) menyebutkkan kurang dari 10% sampah plastik terdaur ulang dan lebih 50% tetap berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Sampah plastik botol yang berhasil dikumpulkan oleh Komunitas Plastik untuk Kebaikan di CFD Jl. Thamrin Jakarta, Minggu, 10 November 2019. Sampah plastik tersebut kemudian disumbangkan kepada seorang pemulung bernama Bu Tini.

Dari 380 TPA di Indonesia setidaknya ada 8.200 hektare yang sebagian akan atau sudah penuh. Ini menunjukan pengelolaan sampah di Indonesia masih sangat buruk.

Sistem pengelolaan sampah/limbah (waste management system) harus siap Mulai dari rumah tangga sebagai unit terkecil, industry, hingga pemerintah. Berangkat dari pemikiran ini, maka sejumlah pecinta lingkungan mendirikan komunitas plastik untuk kebaikan.

“Komunitas ini bertujuan untuk membangun budaya memilah dan membuang sampah plastik pada tempatnya karena komunitas ini menyadari bahwa plastik bukan untuk dihindari tetapi digunakan secara bijak,” kata Eni.

Plastik sebagai kemasan juga memiliki kelebihan dibanding bahan lain, selain ringan, dan aman karena tidak beraksi dengan isi kemasan, juga sampahnya bisa di daur ulang berkali kali. Jadi Plastik memiliki nilai ekonomi sirkular mulai dari produksi, konsumsi dan daur ulang.

Menurut Eni, economi sirkular, akan mengurangi ekstraksi sumber daya alam, menambah lapangan kerja, meningkatkan ekonomi langsung dan tak langsung, mengurangi sampah ke TPA dan meningkatkan kualitas lingkungan.

“Saat ini sudah darurat sampah plastic. Sudah saatnya pemerintah tegas melaksanakan  tata kelola sampah dengan benar. Gerakan dari masyarakat sudah dimulai, kami menunggu gerakan besar dari pemerintah untuk melakukan tata kelola sampah plastic,” kata Eni,  mantan wartawan TEMPO ini.

Penulis: Yuli

Foto: Arif PuK

COMMENTS